Taufiqi School

Hakikat Kembali ke Fitrah

Harusnya Ramadan yang baru, dihadapi dengan kesadaran yang berbeda. Jadi jika ada celoteh dari orang-orang merasa, Ramadan hari ini sama saja biasa aja atau tidak ada yang istimewa, bisa dipastikan bahwa dia tidak termasuk mengisi bulan-bulan Islam dengan bekal ilmu kesadaran dan rasa berserah.

Padahal kita harus terus memperjuangkan diri kita untuk menjadi Islam, dengan cara jangan sampai kehilangan rasa kebesaran kita kepada Allah.

Kehilangan rasa berserah kepada Allah pada seseorang, akan membuat kadar keislamannya menjadi berkurang. Dan akan kembali menjadi Islam saat seseorang kembali berserah.

Boleh saja semua umat Islam merayakan lebaran, namun tidak semua Idul Fitri. Kembali ke Fitrah adalah kembali kepada kemurnian, kesucian kembali ke asal, visi misi lahirnya di dunia, dan tentang bekal apa setelah meninggal dunia.

Etape demi etape genap selama 1 bulan telah terlalu di bulan suci Ramadan. Perjalanan batin yang sangat privasi, untuk menemukan diri kita yang asli. Topeng demi topeng yang melekat kepada hati, pelan-pelan dilepas oleh terapi shaum dan shiam termasuk qiam.

Semakin banyak tempelan topeng-topeng yang melekat kepada hati, semakin memenjarakan kita, yang menjadikan kesejatian tertutup.

Yang tanpa kita sadari, saat ego negatif menyelimuti kita, rasa ujub seperti menjadi prioritas. Aku adalah jabatan itu, aku adalah harta itu, aku adalah pamor itu, bahkan kita merasa aku terhadap kewenangan-kewenangan yang sebetulnya itu hanyalah titipan Allah.

Ramadan yang begitu konsen dan serius, untuk melepaskan kemelekatan di dalam hati, sehingga tidak ada lagi Tuhan jabatan Tuhan pangkat, Tuhan popularitas, Tuhan trending topik, Tuhan kekuasaan, Tuhan manajemen Toxic, di puncak akhir bulan suci Ramadan, terlepas itu di dalam hati yang ada hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Maka pantas di akhir bulan suci Ramadan kita akan bertakbir, memuja asmanya, kita merasa kecil bahkan tidak ada di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kenapa bisa demikian, sebab perjalanan melepaskan topeng-topeng ke dunia ini, ternyata bisa kita lewati dan Allah tuntun.

Jadi mengumandangkan takbir disuruh-surau di masjid atau di manapun itu bukan sebatas formalitas ikut-ikutan Semata, tapi betul-betul dengan penuh rasa kesadaran bahwa mentirakati shaum dan shiam ini butuh pengorbanan yang sangat luar biasa.

Belenggu  yang membuat kita jauh dari fitrah adalah pikiran yang mengendalikan kesadaran. Hal yang membuat kita jauh dari ke orisinalan Diri itulah yang disebut dengan setan. Setan atau sayatin itu artinya ilusi pikiran, di dalam jiwa manusia ketika manusia dalam keadaan kesadaran yang rendah.

Manusia dalam kondisi pikiran sayatin, Mengedepankan ego negatif berkuasa dan diberi panggung, sehingga hilang kesadaran. Sehingga puasa kita dalam keadaan mabuk.

Semakin kemelekatan Semakin eksklusif, semakin aku merasa lebih baik daripada orang lain, target utama pikiran dalam kondisi sayatin aroma memancing yang berakhir untuk memecah belah semakin kontras.

Maka boleh dikatakan, untuk jiwa dalam keadaan kepitrian orisinal, butuh tekad yang bulat. Maka Fitrah itu on going proses tanpa batas.

Semakin manusia dzulumat( gelap hati gelap pikiran) semakin tidak adil memperlakukan waktu dan memperlakukan jiwa. Semakin di dalam hatinya ada Nur (cahaya) dengan Sahar, maka manusia akan mudah mendapatkan pencerahan dari Allah, menuju ke titik balik.

Urgensi self confirmation, ketika mentirakati shaum dan shiam di bulan suci Ramadan.  Mari bertanya kepada diri kita, di level manakah cahaya di dalam jiwa kita, atau di level manakah dzulumat yang berlapis dalam jiwa ini.

Orang yang tidak mengedepankan ego personal, bisa berdamai dengan diri sendiri, tidak kemelekatan hati, bisa mengukur diri, Mengerti apa-apa saja yang ada dalam kendalinya dan apa-apa saja di luar daripada kendalinya, manusia yang semacam ini akan mudah mendapatkan kesadaran Lailatul Qadar.

Penulis mempunyai perspektif sama dengan orang-orang suci terdahulu, tanpa harus menunggu 10 hari terakhir di tanggal-tanggal ganjil di bulan suci Ramadan, atau tanggal-tanggal ganjilnya saja, Bahkan lailatul qadar bisa kita ciptakan dari pertama bulan suci Ramadan, bahkan di luar bulan suci Ramadan.

Jadi ramadannya memang 30 hari, Namun ramadan kan diri itu 11 bulan sampai akhir hayat. Jangan sampai saat latihannya kita dalam keadaan giat dan mampu selama 30 hari. Tapi bertempur yang faktual selama 11 bulan lamanya kita dalam keadaan KO.

Mari periksa diri kita di tingkatan manakah  jiwa kita;
1. Tingkatan Basyariah
Jika kita termasuk orang-orang yang mendominasi ego di dalam jiwanya, maka kita masuk kategori lawwamah dan amarah. Kategori manusia rendah kesadaran.

Di kelas ini manusia akan sulit menemukan cahaya, sebab ego negatif yang terlalu menguasai jiwa. Hidup seenaknya, semaunya, menggampang-gampangkan, mengenteng-entengkan bahkan menyepelekan.

Orang-orang di tingkatan ini, mempunyai kekhasan tersendiri terhadap karakter dalam dirinya. Di antaranya, sifat hewani, cenderung merusak rakus, dan dangkal dalam berpikir. Terlalu banyak memelihara monster di dalam dirinya, sehingga egois, esensial, baperan, norak, dan ugal-ugalan, menjadi pakaian baginya.

Orang-orang di tingkatan ini terjebak kepada doktrin dan dogma yang melekat, sehingga selalu menilai orang lain dengan penilaian hitam putih atau judgement. Sisi toleransi minim, dan cenderung seperti kekanak-kanakan. Tidak ada seni mengunyah yang literatif.

Di tingkatan Basyariah ini, Fokus utama hanya memikirkan makan minum bersenggama, yang enak-enak saja, dan tidak mau tahu tentang manajemen resiko.

Fanatik buta terhadap kelompoknya, memandang kafir kepada pemikiran yang berbeda, memandang hina bahkan memarjinalkan setiap orang-orang yang berbeda dengan kelasnya, atau kelas orang-orang yang oknum ahli ibadah, memandang orang lain buruk dan merasa paling Surgawi.

2. Tingkatan insaniyah
Di tingkatan ini manusia berada di nafsumulhammah. Di tingkatan ini termasuk yang manusia yang lumayan atau sedang. Namun jika tidak dilatih akan masuk kepada kelompok  manusia syariah.

Jadi ada pola labilitas yang memang perlu diperjuangkan agar mempunyai karakter baku (baik dan kuat). Di tingkatan ini  bukan berarti tidak peduli makan minum dan senggama. Bagi orang-orang yang bisa menyalurkannya dengan cara halal.

Tapi poin utamanya adalah bagaimana cara mengisi kehidupan ini dengan ilmu pengetahuan dan kesadaran.
Sehingga tidak terjebak kepada cara ibadah yang ngarang atau asal-asalan. Cukup memapah literatif dan nomeratif.

Orang yang buruk itu tidak baik, orang yang baik bisa jadi buruk jika caranya salah. Namun orang yang sadar  bisa meletakkan baik dan buruk dengan bijaksana. Di tingkatan ini melaksanakan shaum siam dan Qiyam itu tidak dalam keadaan sembrono. Jika tidak tahu bertanya kepada yang ahli. Tidak cukup puas dengan ilmu yang ada, kritis tapi tetap mendahulukan adab

Betul-betul jika ada informasi yang terbaru dikunyah, di tabayunkan, tidak berapi-api untuk menyampaikan data fakta berikut dengan validitasnya. Betul-betul sadar bahwa shaum dan siam adalah perintah Allah. Sebab fokus utamanya adalah ridho Allah. Maka kegiatan-kegiatan yang bukan pada tujuan utama baik ibadah mahdhah atau ghoiro mahdhoh akan sangat diminimalisir. Khawatir ibadahnya jauh daripada tujuan. Atau sekurang-kurangnya mengurangi kualitas ibadah.

Di tingkatan kedua ini manusia akan belajar untuk rendah hati, dan menurunkan dosis ego negatif, dan tidak akan pernah habis-habisan,  membuang-buang energi kepada sesuatu yang tidak penting.

Di tingkatan ini orang-orang menjalani kegiatan Ramadan cenderung rileks tidak kaku dan mengutamakan kebermanfaatan. Selain Dia mengutamakan sholeh secara ritualis juga dia mengutamakan sholeh secara sosialis, dengan melatih lapang dada.

3 Tingkatan insan Kamil.
Di tingkatan ini manusia berada di nafsu kamilah Rodiah dan Mardiyah.
Di tingkatan Insan Kamil, Islam dibawakan dengan penuh enjoy, ceria, dan memberikan harapan pada orang lain, bukan menakut-nakuti.

Santai tidak harus teriak-teriak, luwes, tidak harus maksa-maksa, kooperatif tanpa mencampuradukkan tauhid, mau kolaboratif dalam kemanusiaan, menuju ke semestaan.

Orang-orang yang di dalam tingkatan ini sudah mulai fokus meniti ke dalam diri. Sebab Kebahagiaan sejati itu kuat dari dalam. Jadi tidak tergantung lagi kepada kebahagiaan yang ada di luar dirinya.

Sudah tidak lagi dibayang-bayangi rasa takut terhadap validitas orang lain terhadap dirinya, dia menampilkan diri apa adanya tapi tidak seenaknya, obrolan tidak dilebih-lebihkan tidak dikurang-kurangkan tidak di bumbu-bumbu, tapi sekalinya berbicara di tiap pikiran kita sangat begitu mendalam maknanya.

Selalu ada penyempurnaan dan progresif pertumbuhan jiwa.
Di tingkatan ini manusia akan sangat bersalah, jika mentirakati ibadah-ibadah yang sudah dilakukan, ternyata akibat kehilangan diri ternodai atau tercederai oleh hal-hal yang mungkin kategorinya sepele. Apalagi kepada perbuatan yang dianggap dosa tentu akan bertobat dengan penuh rasa penyesalan.

Maka di tingkatan Insan Kamil ini, selalu memandang dirinya adalah Abdillah atau hamba Allah.
Jika di tingkatan insaniah observasi diri Resort atau mengamati diri melalui ilmu pengetahuan, baru ia menemukan bahwa dirinya sebagai Abdillah.
Tapi untuk ditingkatkan Basyariah, sulit baginya menjangkau bahwa dirinya sebagai hamba Allah, dia lebih banyak memposisikan dirinya sebagai Aku adalah… .

Di tingkatan Basyariah karena mengedepankan ego maka akan rajin sekali untuk mengkotak-kotakan, membentur-benturkan, dan memperkeruh suasana.

Di tingkatan insaniah segala sesuatunya harus bersifat rasional, baru Ia mau melakukan. Tapi di tingkatan Insan Kamil, bukan berarti mengabaikan ikhtiar, tapi jika sudah mentok maka dia akan bertawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perjalanan manusia dari Basyariah insaniyah ke Insan Kamil, adalah perjalanan manusia dari Nar menuju ke Nur. Jadi untuk menjadi manusia cahaya harus mau berhijrah dari fujur menuju Taqwa.

Kesejatian-kesejatian hanya akan bisa dicapai ketika kita melepas lapisan-lapisan ego negatif ini yang menjadi topeng sehari-hari.
Ramadan ini artinya membakar dosa-dosa, salah satunya adalah tidak mengedepankan ego untuk diberi panggung.

Bahkan orang yang sudah menuju kembali kepada fitrah, diam-diam di dalam hatinya mengkonfirmasi, boleh jadi kita tersesat, di waktu-waktu tertentu paling dominan. Di detik yang sama banyak orang yang menyesat-nyesatkan orang lain, membiddah-bid’ahkan orang lain, mengutuk-ngutuk orang lain, bahkan menerapkan neraka kan orang lain.

Tamsil sederhana, jika ia sadar haus yang ia lakukan tidak akan mengeluarkan energi agar dirinya lebih haus.
Begitupun ketika ia lapar ia tidak akan mengeluarkan energi banyak sehingga ia akan lebih lapar.

Maka orang yang ingin kembali kepada Fitrah ia akan sadar, tidak akan membuang-buang energi lebih haus lebih lapar memperburuk keadaan agar ia lebih tersesat dalam keadaan ketersesatan kelekatan hati. Harusnya satu bulan ini perenungan bagi kita semua.

Dengan Ramadan ini harapannya, ke Fitrian akan membekas di seluruh sel tubuh pikiran bahkan jiwa mengisi basah ruang-ruang kering pada jasmani, sehingga manusia akan mudah menjadi makhluk ruhani.

Hormon-hormon kecemasan kebencian keegoan kemarahan, dilebur oleh sikap rendah hati dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga jasmani dan rohani memproduksi vibrasi vibrasi Toxic menjadi vibrasi vibrasi ketenangan kesadaran dan kebijaksanaan.

Kembali ke Fitrah artinya membadankan ajaran Islam kepada setiap sel tubuh kita, dengan kepasrahan yang mendalam, sehingga apa yang dipikir diucap dan ditindak dalam keadaan kepasrahan yang mendalam ini, hanya ada dalam kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika Takbir hanya digemakan saja di kampanyekan saja di akhir-akhir di bulan suci Romadhon tanpa keinginan yang sungguh-sungguh dan sadar menuju ke Fitrian sejati. Maka kembali kepada Fitrah tidak akan pernah terjadi.

Tentunya satu bulan lamanya pikiran akan dihadapkan ego positif dan ego negatif, maka adanya sahum dan siam ini untuk menundukkan hawa nafsu,
sehingga bertambah kesadaran kita terhadap kemurnian sejati kesucian asal muasal kita visi misi jiwa akhir ke dunia, dan pasca dunia.

Orang yang siap ke fase dimensi alam selanjutnya, selepas dari alam dunia; pertama, mampu melepas kemelekatan hati; kedua menurunkan dosis ego; ketiga kebersihan diri kepada Allah, dan mau memaafkan orang rumah dan mau meminta maaf kepada orang yang pernah menjadi rumah.

Pungkas, kita sering dengar dengan kalimat ‘Minal aidin wal faizin“.
Orang-orang yang kembali kepada Fitrah adalah orang-orang yang menang.

Ciri-ciri orang yang menang akan ada peningkatan, peningkatan ini artinya Syawal.  Orang yang masih cara ibadahnya sama berarti dia stuck, namun alangkah ruginya jika tanpa ada perubahan dan peningkatan dalam kualitas ibadah.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, memiliki arti “Semoga Allah menerima (Shaum dan siam) kita dan setiap tahun semoga kita senantiasa dalam kebaikan.”

sumber : https://pangandaran.kemenag.go.id/

Leave a Reply